INFODESA.ID|SULAWESI TENGAH|BANGGAI KEPULAUAN – Salakan adalah Ibu Kota Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Sulawesi Tengah, Kota Salakan terbagi atas 4 Desa yaitu, Desa Tungabe, Desa Baka, Desa Tompudau dan Desa Bonggana. Kota ini terletak di Kecamatan Tinangkung, berada di pinggir laut di mana sarana transportasi adalah Dermaga Salakan untuk menuju Luwuk Ibukota Kab. Banggai.
Rute : Jakarta-Makasar-Luwuk,
Rute : Jakarta-Palu-Luwuk,
Rute : Jakarta-Makassar-Kendari-Banggai-Bitung.
Rute Palu menuju ibukota Kabupaten Banggai Luwuk ditempuh melalui jalan darat (Bus/dengan kendaraan carteran). Memakan waktu kurang lebih 16 – 20 jam karena jarak Palu – Luwuk sekitar 350 Km.
Dan selanjutnya dari Kota Luwuk, untuk mencapai Kota Salakan kita menggunakan transportasi kapal kayu, Kapal Cepat dan Kapal Feri yang secara reguler beroperasi tiap hari,
Diambil dari berbagai sumber : Kota Salakan mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Di sinilah lokasi armada kapal perang Indonesia pada peristiwa Trikora bersembunyi. Baik kapal perang Angkatan Laut Indonesia, kapal niaga yang ikut membantu penyerangan, sampai kapal selam berkumpul di sini menunggu komando. Posisinya memang sangat strategis. Dekat dengan Papua dan terlindungi dengan baik oleh bentuk Pulau Peling yang seperti huruf U dan adanya Pulau Bangkalan di depannya.
Pantaun infodesa.id dalam Kota Salakan beberapa jalan utama bernama kapal kapal yang pernah perlabuh di teluk Bongganan.
Seperti KRI Teluk Bayur, KRI Imam Bonjol dan lainnya.
Perjalanan infodesa.id, untuk mencapai monumen berbentuk segitiga ini, pengunjung harus menapaki 214 anak tangga. Di sekitar tugu terdapat halaman berteras sebagai tempat mengenang peristiwa pada masa lalu, yaitu sebuah simbol perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya merebut Irian Barat (Papua) dari Belanda.
Lanjut Pantauan indodesa.id (Sabtu,13/1-2018) dari tugu ini kita dapat melihat seluruh ‘kota’ Salakan dan gugusan pulau di depannya. Indah sekali, walau pada awalnya akan cukup membuat ngos-ngosan untuk menuju ke lokasi tugu berada. Sayangnya, kondisinya tidak begitu terawat. Banyak rumput liar pada tangga, jalan masuk menuju tugu, dan di bawah tugu bersejarah itu sendiri. (Ahmad Budullah).
