FTP UGM Bina Santri Ponpes KMI BQ Untuk Produksi Kedelai Lokal

 

INFODESA.ID-WONOGIRI- Indonesia sebagai negara agraris, tetapi bahan makanan masih mendatangkan bahan baku dari luar negeri (impor).

Misalnya, kedelai mengimpor lebih 90 % dari kebutuhan nasional, dari total sekira 8.200 ton perhari.

Dekan Fakultas Tekhnologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP-UGM) Yogyakarta Prof. DR. Ir. Eni Harmayani MSc. menyebutkan kedelai lokal hanya mampu memenuhi kurang dari 10 % kebutuhan nasional. Selebihnya 90 % lebih dicukupi dari kedelai impor.

“Kedelai lokal hanya mampu memenuhi 10 %, bahkan kurang dari itu,” ujar Eni. Padahal bahan penganan (makanan) tempe, tahu, keripik dan lain lain ini masih dikonsumsi rakyat. Siapapun. Kapanpun. Di manapun.

Eni memaparkan beberapa faktor penyebabnya. Antara lain, karena harga kedelai lokal tidak mampu bersaing melawan kedelai impor.

Kedua, kedaulatan pangan atau kemandirian pangan terganggu. Misalnya karena pandemi atau konflik Rusia vs Ukraina.

Sekalipun masyarakat punya uang, akan tetapi jika barang tidak ada atau langka. Sehingga menjadikan harga naik. Maka ketahanan pangan menjadi terganggu.

“Ketahanan pangan adalah ketahanan negara dan katahanan bangsa. Jika rakyat gak bisa makan, maka terjadi kekacauan. Maka kedaulatan pangan penting sekali,’ katanya.

Karena itu, FTP UGM mendorong dan komitmen untuk meningkatkan kemandirian dan kedaulatan pangan. Kedelai termasuk kebutuhan pokok sebagai sumber protein masyarakat. Untuk itu, FTP UGM sering memberikan masukan kepada pemerintah untuk meningkatkan kedaulatan pangan.

Sejak 2022 lalu hingga kini, FTP UGM membina dan mendampingi Santri Pondok Pesantren Kulliatul Muallimin Baitul Qur’an Slogohimo Wonogiri memproduksi dan memasarkan olahan berbahan kedelai lokal.

Pada Senin (26/1/23) dilaksanakan panen raya kedelai lokal, di lahan sekira 2ha di Desa Kopen Kecamatan Jatipurno.

Seremoni panen kedelai lokal dilakukan oleh dekan dan mahasiswa FTP UGM, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Wonogiri Baroto Eko Pujanto, Pengasuh Ponpes BQ Slamet Husaini dan para santri, Pimpinan Koperasi Marta Agro Kiyanto.

Dekan FTP UGM berharap panen raya kedelai lokal menjadi pilot pengembangan model bisnis usaha syariah sektor makanan olahan kedelai. Kegiatan ini terlaksana karena kerjasama antara Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia dengan FTP UGM.

Eni menceritakan, dahulu kedelai impor lebih murah dibandingkan kedelai lokal. Sehingga petani tidak tertarik menanam kedelai. Sekarang harga bersaing. Petani mulai tertarik menanam. Untuk itu Eni berharap percontohan ini berkembang sehingga menguntungkan ketahanan pangan. (Bagus Sarengat)