Gerbang “Empat Cinta” Desa Gunungagung Diresmikan

Peresmian Gerbang Desa oleh Asisten Pemerintahan Sekda Pemkab Tegal, Drs Hasan Munawar,MM
Peresmian Gerbang Desa oleh Asisten Pemerintahan Sekda Pemkab Tegal, Drs Hasan Munawar,MM

INFODESA.ID- SLAWI- Gerbang Desa “Empat Cinta” yang dibangun masyarakat Desa Gunungagung Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal diresmikan, Rabu (16/11) kemarin. Peresmian dilakukan oleh Asisten Pemerintahan Sekda Pemkab Tegal, Drs Hasan Munawar,MM usai Penutupan Karya Bakti TNI tahap IV tahun 2016 didesa setempat.

Dalam kesempatan itu, Hasan Munawar melakukan pengguntingan pita peresmian gerbang. Turut menyaksikan Camat Bumijawa, Ahmad Susiyanto dan jajaran Muspika serta masyarakat Gunungagung.

“Saya apresiasi atas Pembangunan Gerbang Desa Gunungagung, ini sebagai implementasi dari Program Empat Cinta pemerintahan Bupati Enthus Susmono dan Wakil Bupati, Umi Azizah,” ujar Hasan Munawar disela peresmian.

Kepala Desa Gunungagung, Junaedi,S.Pd menjelaskan, pembangunan Gerbang Desa Gunungagung yang diberinama “Empat Cinta” menghabiskan dana mencapai 25 juta rupiah. Dana tersebut berasal dari swadaya masyarakat.

“Pembangunan dimulai pertengahan Oktober lalu, kurang 1 bulan selesai. Dan Alhamdulillah telah diresmikan oleh Bapak Asisten I Pemkab Tegal,” ungkapnya.

Peresmian Gerbang Desa oleh Asisten Pemerintahan Sekda Pemkab Tegal, Drs Hasan Munawar,MM
Peresmian Gerbang Desa oleh Asisten Pemerintahan Sekda Pemkab Tegal, Drs Hasan Munawar,MM

Menurut Junaedi, gerbang Empat Cinta merupakan bentuk antusiasme dan respon masyarakat Gunungagung terhadap Program Empat Cinta pemerintahan Enthus-Umi. “Kelebihannya, gerbang ini dibangun terintegrasi dengan Pos Kamling Desa. Jadi sekaligus berfungsi sebagai Poskamling,” jelasnya.

Junaedi menambahkan, pihaknya bersama masyarakat Gunungagung juga berencana membangun gerbang desa yang sama di setiap RW di Desa Gunungagung. “Kedepan, insya Alloh masyarakat Gunungagung punya cita-cita membangun gerbang empat Cinta di setiap RW ” pungkasnya.[son]

BEKRAF Sukses Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif Tenun Ikat Sikka – Maumere

Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif Tenun Ikat Sikka – Maumere
Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif Tenun Ikat Sikka – Maumere

INFODESA.ID-Maumere -Setelah tiga bulan sejak Juli 2016 Badan Ekonomi Kreatif melakukan Pembinaan dan Pendampingan terhadap 50 penenun yang mewakili dari 6 Desa di Kabupatem Maumere, hari ini bertempat di Sylvia Hotel Maumere dilakukan acara penutupan Program Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif di Kabupaten Maumere.

Acara penutupan ini dihadiri oleh Bupati Sikka Drs.Yoseph Ansar Rera, Deputi Bidang Infrastruktur Bekraf Bapak Hari Santosa Sungkari, Direktur Fasilitasi Infrastruktur Fisik, Bekraf Selliane Halia Ishak, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Sikka, Kepala Dinas Pariwisata Kab. Sikka serta para penenun yang telah mengikuti pembinaan dan pendampingan selama 3 bulan ini. Dalam kegiatan selama tiga bulan di Maumere tersebut telah berhasil memberikan semangat serta tambahan skills bagi para penenun dalam melakukan perubahan berbasis kearifan lokalnya.

Perubahan tersebut dapat dilihat dari semangat para penenun dalam mengikuti tahapan demi tahapan selama pembinaan dan pendampingan mulai dari bagaimana memanfaatkan alam sebagai sumber utama untuk bahan pewarnaan, kemudian bagaimana membudidayakan bibit untuk bahan bakunya, bagaimana berkreasi dengan pengenalan pola tanpa harus meninggalkan nilai-nilai tradisi, bagaimana para penenun mengenal trend, serta bagaimana membuat hitungan nilai dari hasil karyanya.

Dari 50 penenun yang ikut dalam program ini, hari ini kita disuguhi sebanyak 76 hasil karya tenun ikat Sikka yang mengalami transformasi baik dalam pewarnaan, penggarapan serta keragamannya. Kalau dulu sebelum ikut dalam program ini kebanyakan hanya membuat kain tenun ikat tradisional, kini sudah dapat membuat baju dari kain tenun ini tanpa merusak nilai kearifan lokalnya dan lebih dapat diterima oleh khalayak luas. Hasil karya tenun ikat Sikka yang dibuat selama tiga bulan dalam program ini kesemuanya akan di bawa dan dipamerkan di Jakarta pada bulan November 2016 nanti.

Bupati Sikka Drs.Yoseph Ansar Rera dalam sambutan penutupan Program Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif di Maumere menjelaskan bahwa Sesuai data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sikka, di Kabupaten Sikka saat ini memiliki 131 Kelompok tenun ikat yang tersebar di 21 Kecamatan dengan total penenun yang terdaftar sebanyak 2111 penenun.

                “Perkembangan serta permintaan Tenun Ikat Sika terus meningkat, namun ada kendala yakni bagaimana Tenun Ikat Sikka ini mampu menjadi perhatian pasar yang lebih luas. Melalui Program Fasilitasi Pembentukan Desa Kreatif khususnya untuk Kain Tenun Ikat Sikka, selaku Bupati Sikka kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bekraf, melalui program ini seperti yang kita lihat pada pagi ini, Tenun Ikat Sikka akan siap diterima oleh pasar yang lebih luas,” papar Bupati Sikka.

                Pada kesempatan itu, Bupati Sikka juga mengajak kelompok-kelompok tenun yang ada di Sikka untuk kembali menanam Kapas, kembali ke bahan alam, juga meminta Kepala Dinas Pariwisata Sikka untuk melakukan sinergi dan koordinasi agar program ini tetap berjalan.

Terkait dengan Program tersebut, Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Santosa Sungkari menjelaskan bahwa Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif tersebut dimaksudkan untuk mengenali potensi unggulan desa dengan berusaha mengetahui dari 5 Rantai Nilai Ekonomi Kreatif, serta 4 aktor (Akademisi, Bisnis, Komunitas, Pemerintah, dan Media), serta 2 (dua) daya ungkit yakni forwad linkage dan backward linkage. Artinya program ini dilakukan secara bersama-sama dan saling sinergi oleh lintas pemangku kepentingan yang melibatkan Pemerintah baik pusat maupun daerah, komunitas kreatif sebagai representasi masyarakat, akademisi dan para pelaku usaha. Program fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif memiliki tujuan besar, yaitu; peningkatan PDRB, peningkatan jumlah tenaga kerja terampil, serta pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal.

“Bermula dari pemahaman akan potensi yang ada di desa khususnya dari 16 subsektor ekonomi kreatif tersebut kita akan angkat guna dapat mengembangkan ekonomi daerah. Ekosistem juga ditujukan agar subsektor unggulan memiliki nilai tambah (value added) yang tinggi terutama dalam hal kualitas produk, sehingga mampu melahirkan banyak usaha rintisan, startup, wirausaha dan UKM dibidang ekonomi kreatif,” jelas Hari Santosa Sungkari.

Denny Kho seorang Pengajar Bidang Textile dan Fashion yang juga perancang busana dan selama tiga bulan melakukan pembinaan serta pendampingan dalam program ini menjelaskan bahwa, para penenun di Maumere ini secara skills sudah menguasai, sehingga mempermudah tugasnya untuk mengajak bersama-sama berubah menjadi yang lebih baik dari sisi kreasi. Selain itu Denny juga mengajak untuk memanfaatkan bahan baku dari alam sekitar, kemudian juga mengajarkan tentang pewarnaan, pemolaan, serta menyulut keberanian para penenun yang ada untuk melakukan kreasi secara berani tanpa harus meninggalkan nilai-nilai tradisi yang sudah tertanam sejak nenek moyangnya.

 “Kalau selama ini para penenun di Sikka lebih banyak berkarya untuk keperluan tradisi atau adat dan sebaian kecil lainnya untuk dijual guna memenuhi kebutuhan sehari-harinya, kini saya tantang bagaimana para penenun yang ada mampu menciptakan ragam produk yang bisa diakui dan diterima masyarakat internasional dan pasar tanpa merusak tradisi atau kearifan lokal yang ada,” jelas Denny.

Senada dengan Deny,  Peneliti Kain Indonesia dari ITB Dr. Ratna Panggabean, M.Sn menyampaikan bahwa karya-karya yang dihasilkan selama tiga bulan tersebut secara teknis dan orisinalitas tidak perlu diragukan lagi, dan secara keseluruhan telah bertransformasi sesuai dengan harapan dari program tersebut.

“Yang sulit dalam pembinaan dan pendampingan ini adalah bagaimana merubah pola pikir serta memicu semangat untuk berubah dari para penenun, dan ini pengajar dalam program ini telah sukses mendorong para penenun untuk menghasilkan karya yang dapat diterima oleh pasar yang lebih luas,” jelas Ratna.

Lebih jauh ia berharap, setelah suksesnya piolot project Program Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif di Maumere selama tiga bulan ini, kedepannya diharapkan pemerintah daerah memiliki kesamaan semangat untuk meneruskan dan menyukseskan pembentukan ekosistem desa kreatif – kain tenun ikat Sikka ini dengan senantiasa melakukan pembinaan dan pendampingan.[rill]

BEKRAF Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif

Pembentukan Ekosistem  Desa Kreatif
Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif

INFODESA.ID-Maumere-Presiden Jokowi melalui arahannya untuk menjadikan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Desa Kreatif berperan untuk mendukung ekosistem dalam pengembangan ekonomi kreatif. Untuk itu, pengembangan atau pembentukan ekosistem Desa Kreatif yang digagas oleh Bekraf melalui Deputi Infrastrukturmengacu kepada 16 subsektor dan 5 Rantai Nilai Ekonomi Kreatif, serta 5 aktor (Akademisi, Bisnis, Community, Goverment dan Media.Artinya program ini dilakukan secara bersama-sama dan sinergi oleh lintas pemangku kepentingan yang melibatkan Pemerintah baik pusat maupun daerah, komunitas kreatif sebagai representasi masyarakat, akademisi dan para pelaku usaha.

Deputi Bidang Infrastruktur Bekraf, Hari Santosa Sungkari menjelaskan bahwa Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif tersebut dimaksudkan untuk mengenali potensi desa dengan  berusaha mengetahui dari 16 subsektor Ekonomi Kreatif yang paling potensial di desa tersebut dan selanjutnya potensi industri tersebut ada di rantai nilai yang mana dari ke lima rantai nilai, yakni; Kreatif, Produksi, Distribusi, Konsumsi dan Konservasi.

“Bermula dari pemahaman akan potensi yang ada di desa khususnya dari 16 subsektor ekonomi kreatif tersebut kita akan angkat guna dapat mengembangkan ekonomi daerah. Ekosistem yang ini juga ditujukan agar susbsektor yang dikembangkan ada multiplier effect sehingga mampu melahirkan banyak usaha rintisan dan startup dibidang ekonomi kreatif,” jelas Hari Santosa Sungkari.

Lebih jauh dijelaskan bahwa, program fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif memiliki tujuan utama seperti; peningkatan PDRB, pembukaan lapangan tenaga kerja, serta pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal.

Sebagai pilot project untuk pelaksanaan Program fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif dan secara khusus sebagai upaya Bekraf dalam mengenali pola masing-masing daerah dipilih 3 daerah, yakni; 6 desa di Maumere,  2 desa di Batang, dan  2 desa di Lombok Tengah.

Program di ketiga daerah tersebut telah berjalan dengan baik dan sangat berhasil sebagai langkah awal dalam pemetaan potensi yang ada dan kemudian dilakukan worksop secara bertahap. Pelaksanaan program fasilitasi pembentukan ekosistem desa kreatif di Maumere dilaksanakan selama 3 bulan yakni sejak bulan Juli 2016 sampai dengan September 2016 yang difokuskan pada pengembangan Tenun Ikat Sikka. Terkait dengan pengembangan Tenun Ikat Sikka ini, Bekraf bekerjasama dengan berbagai pihak melakukan workshop yang diikuti oleh 50 pengrajin / penenun dari berbagai kelompok yang ada di Maumere. Tahapan-tahapan dalam program ini pertama-tama adalah peserta diajarkan bagaimana memanfaatkan pewarnaan alam mulai mengenal warna dasar, komposisi dan padupadan warna, kemudian pengenalan trend tekstil, membuat pola atau desain dasar, serta praktik.

Kegiatan di Maumere ini akan ditutup pada tanggal 30 September 2016, dan selama 3 bulan workshop ini para pengrajin/penenun telah mampu menghasilkan karya yang sangat luar biasa dan rencananya akan dipamerkan di Jakarta pada bulan November 2016 nanti.

Untuk daerah  Batang yakni fokus pada Batik dan telah dilaksanakan sejak bulan Agustus 2016 dan akan ditutup pada bulan Oktober nanti. Kemudian untuk daerah Lombok difokuskan pada pengembangan Tenun Songket dan sudah dimulai sejak bulan September dan akan ditutup pada bulan November 2016 nanti. Hasil karya dari para peserta dari dua daerah ini rencananya juga akan dipamerkan di Jakarta.[rill]

Petani Bawang Merah Keluhkan Rencana Impor

????????????????????????????????????
bawang merah

INFODESA. ID – BIMA – Petani bawang merah seluruh Indonesia mengeluhkan kebijakan Presiden RI Joko Widodo. Menyusul langkah Presiden akan mengimpor bawang merah ke pasar dalam negeri.

Kebijakan itu dinilai merusak harga bawang merah di pasar. “Bawang merah import sekarang sudah mulai masuki pasar Indonesia. Seperti di Medan dan di Surabaya,” kata Amri dan Riftan selaku anggota Himpunan Petani Bawang Merah Gunung Mola Desa Monta Sumbawa NTB.

Amri dan Riftan meminta dengan hormat kepada Presiden Jokowi agar bawang merah tidak diimport. Lebih baik mendanai petani bawang merah dengan menunjang pengairan dan peralatan pertanian serta obat obatan.

Hal sama dikemukakan Amri dan Riftan anggota perhimpunan petani bawang. Dijelaskan, pemeliharaan bawang merah selama musim tanam diperlukan biaya yang tinggi. Karena harga obat obat khusus bawang merah ini sangat mahal. Butuh perawatan yang intens dan kehati-hatian. Jika bawang merah import menguasai pasar Indonesia, diperkirakan petani bawang merah merugi besar. Apalagi harga di bawah Rp.15 ribu dari nilai jual petani.

petani bawang
petani bawang

Menurut pengakuan para petani, agar bawang merah bisa mendapatkan keuntungan pada setiap musim tanam, petani harus mendapatkan harga Rp.20 ribu/Kg.

Yang membuat para petani terpukul bawang import masuk bersamaan dengan musim panen raya di daerah daerah produksi seperti Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Bima NTB.

Jika Presiden Jokowi masih mensatabilkan harga bawang merah dengan cara import diperkirakan petani bawang merah mengalami kerugian besar. Mengingat tidak sesuai antara biaya pengeluaran perawatan bawang merah selama musim tanam dengan nilai jual pasca panen.Makin jelas arah kebijakan Jokowi bukan berpihak kepada rakyat kecil, tapi lebih berpihak pada pengusaha, pelaku import dan pedagang besar. (AS)

Pertanian Kurang Diminati, Komisi IV Imbau Pemerintah Galakkan Kepeloporan Generasi Muda

Fadholi - anggota Komisi IV
Fadholi – anggota Komisi IV

INFODESA.ID-Jakarta – Pertanian di Indonesia dibayangi sejumlah persoalan, mulai dari lahan pertanian yang tidak bertambah hingga regenerasi petani yang berjalan. Imbasnya cukup serius, yakni menurunnya produktifitas sektor pertanian di masa mendatang saat kebutuhan pangan meningkat. Dalam diskusi ringan dengan anggota Komisi IV Fadholi, dijelaskan bahwa hal tersebut sudah ia proyeksikan sebelumya.

Persoalan lahan di Indonesia menurutnya bisa disiasati dengan pembukaan lahan baru dan menghentikan penggunaan areal pertanian untuk residensial. Cara tersebut bisa dimulai dengan redistribusi lahan-lahan yang berpotensi terhadap petani dengan kepemilikan lahan kurang dari satu hektar.

“Petani ini minimal harus punya lahan satu hektar baru menguntungkan. Makanya saat ini sektor pertanian tidak dilirik oleh generasi muda karena mau untung gimana wong untungnya kecil dari lahan yang seperempat hektar,” ungkapnya.

Adapun soal regenerasi, Ketua Kelompok Komisi IV dari Fraksi NasDem ini memaparkan, 65% generasi dari petani tidak tertarik menjadi petani. Salah satu sebabnya karena faktor penghasilan tidak stabil dibandingkan bekerja di sektor manufaktur. Keadaan ini diperparah dengan kecilnya kontribusi dunia pendidikan terhadap kemajuan pertanian.

Untuk mengatasinya, pemerintah harus memberikan perhatian dan kontribusi besar. Sebagai langkah awal, pemerintah perlu menciptakan kepeloporan generasi muda untuk terjun langsung ke ladang melalui pendidikan.

Di tingkat pendidikan menengah, ia mengimbau pemerintah untuk menggalakkan kembali Sekolah Menengah Pertanian Atas (SPMA) yang sempat meredup. Transfer pengetahuan terkait pertanian modern bisa menjadi fokus perhatian agar lebih menarik dalam benak siswa.

“Menggalakan SMPA ini bisa menjadi langkah awal, kalaupun tidak diteruskan ke jenjang perguruan tinggi, sudah punya bekal. Kalau pun melanjutkan kuliah, bagusnya konsisten memilih pertanian,” tegasnya.

Di jenjang perguruan tinggi, menurutnya, pemerintah perlu merangsang para mahasiswa untuk menjadi pengusaha di bidang agrobisnis. Ia mengakui bahwa untuk mengarah ke sana akan sangat sulit. Kendati demikian, pemerintah bisa melakukan serangkaian kebijakan yang mengarusutamakan pertanian. Rangsangan tersebut bisa berbentuk insetif bagi pengusaha muda, baik itu pajak maupun perlindungan harga jual.

“Pemerintah juga harus menyediakan lahan garapan, dan pengawalan terhadap bisnis tersebut sampai stabil. Dan yang tidak kalah penting adalah membuka pasar dalam negeri dan luar negeri untuk para generasi pertanian ini,” pungkasnya.

Wisudawan UT Harus Beradaptasi dengan Perkembangan Peradaban

 IMG_20160524_212345

JAKARTA-Guru merupakan sosok berpengaruh dalam membentuk generasi bangsa. Tunas-tunas negeri pertiwi berada di pundak guru agar dapat menjadi generasi cemerlang pembawa perubahan dan kemajuan suatu negara. Dengan demikian, guru bukan hanya bertugas mengajar melainkan menanamkan nilai dan moral kepada anak didik penerus bangsa ini. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, dibutuhkan inovasi dan keteladanan bagaimana menjadi guru yang ideal dan inspiratif.

Wisuda Universitas Terbuka (UT) Periode II Wilayah 2 Tahun 2016 mengusung tema Membangun Pendidik Inspiratif. Hal ini bertujuan membekali pengetahuan dan pemahaman kepada wisudawan UT betapa vitalnya peran guru di masyarakat. Rektor UT Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D dalam sambutannya menyampaikan, guru sebagai pendidik merupakan tulang punggung yang sangat penting dalam proses pendidikan. Seorang guru ditempatkan dalam posisi yang mulia, sebagai sosok yang digugu dan ditiru. Digugu berarti segala ucapan seorang guru dapat dipercaya, sedangkan ditiru bermakna bahwa segala tingkah laku seorang guru merupakan contoh teladan bagi orang lain. Menurutnya, Indonesia sangat mengharapkan hadirnya sosok guru yang mampu menjadi teladan bagi anak didik.

UT sebagai Perguruan Tinggi Jarak Jauh selama hampir 32 tahun berkiprah dalam dunia pendidikan mencetak tenaga-tenaga profesional, salah satunya adalah guru. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan melayani mahasiswa melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan literasi teknologi. Hal ini bertujuan agar hadir guru-guru inspiratif yang memiliki wawasan keilmuan yang luas dan dapat beradaptasi dengan perkembangan peradaban.

Wisuda yang dilaksanakan di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Selasa, 24 Mei 2016 ini menghadirkan orasi ilmiah yang disampaikan Drs. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D., Lektor Kepala Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP UT. Dalam orasinya yang bertema Percikan Pemikiran tentang Guru, Kurikulum dan Inspiratif Pedagogi, Ojat menyampaikan terdapat beberapa aspek penting yang dapat diaplikasikan guru dalam memberikan pengajaran kepada peserta didik. Aspek tersebut diantaranya sumber pembelajaran. Menurutnya, sumber belajar merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam pengembangan kurikulum. Betapapun matangnya perencanaan pembelajaran tetapi tanpa didukung oleh sumber-sumber yang relevan dan tepat, sesuai dengan kebutuhan pencapaian kompetensi yang diharapkan, maka hampir dapat dipastikan kualitas pembelajaran yang dihasilkan tidak akan baik. Aspek selanjutnya desain pembelajaran. Salah satu aspek strategis yang terkait dengan kualitas pendidikan adalah keputusan tentang desain instruksional. Pengambilan keputusan pada tahapan perencanaan ini menjadi sangat penting karena akan terkait dengan model dan strategi pembelajaran selanjutnya yang akan disediakan.

Sebanyak 680 wisudawan dari berbagai daerah di Indonesia yang hadir tampak antusias menyimak penuturan orasi yang disertai dengan contoh dalam video bagaimana menjadi guru yang inspiratif. Diharapkan pengetahuan ini dapat menjadi bekal wisudawan UT untuk menjadi tauladan dan guru inpiratif bagi masyarakat. Wisuda kali ini juga pertama kalinya dihadiri oleh wisudawan yang berasal dari UPBJJ UT Layanan Luar Negeri Arab Saudi yakni Muladi dan Annur Rohimah Hasibuan.(rill)

 

Brebes, Kembangkan Sentra Peternakan Rakyat

Brebes Hj Idza Priyanti SE,
Brebes Hj Idza Priyanti SE,

INFODESA.ID-BREBES-Kabupaten Brebes tidak hanya terkenal dengan Bawang Merah dan Telor Asin saja, tetapi juga tengah mengembangkan peternakan. Ada tiga jenis peternakan yang dijadikan komoditi utama dan mampu mensuplai kebutuhan ternak nasional, seperti halnya bawang merah. Ketiga peternakan itu meliputi itik, kerbau dan sapi. Untuk menjamin keberlangsungannya, dibuatlah Sentra Peternakan Rakyat  (SPR) di empat tempat.

“Kami sudah menetapkan empat SPR, dan sudah dideklarasikan,” ujar Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE, saat perbincangan diruang kerjanya, kemarin.

Keempat SPR tersebut, lanjutnya, pertama SPR Itik Brebes di Kelurahan Limbangan Wetan, Limbangan Kulon dan Gandasuli Kecamatan Brebes. Kedua, SPR Kerbau di desa Kebandungan dan Desa Pengarasan Kecamatan Bantarkawung. Ketiga, SPR Sapi Jabres di Desa Pangebatan dan Desa Karangpari Kecamatan Bantarkawung. Dan keempat, SPR Sapi Pedaging di Desa Buara Kecamatan Ketanggungan.

Idza menerangkan, untuk tahun ini SPR Sapi Pedaging di Desa Buara Ketanggungan mendapatkan suntikan dana dari APBN untuk pengembangannya. “Di Jawa Tengah hanya ada 6 daerah, salah satunya di Brebes yang mendapatkan suntikan dana APBN Multi years sebesar Rp 1,5 milyar,” tuturnya.

Dengan dana Multi years, itu berarti ada keberlanjutan hingga mencapai target yang telah ditentukan sampai tahun 2019.

Brebes terpilih karena telah memenuhi persyaratan SPR minimal memiliki 1000 ekor induk Sapi Pedaging dan maksimal 100 ekor jantan. “Brebes sendiri, memiliki 28 ribu ekor sapi selain yang ada di Buara,” ujarnya.

SPR Sapi Pedaging ini, masih kata Idza, ditangani oleh 9 kelompok tani ternak yang tersebar di 7 Pedukuhan desa Buara dengan populasi yang dikelola mencapai 3.675 ekor.

Diharapkan, kata Idza, dengan dibuatnya SPR Sapi Pedaging akan mampu mendukung program swasembada daging dan sumber bibit sapi nasional. Di SPR ini juga ada sekolah peternak rakyat, sehingga menjadi pusat studi ternak bagi peternak se Indonesia.

SPR Sapi Pedaging ini dipimpin oleh Manajer SPR dari THL Kementerian Pertanian RI Seno Bayu Wibowo SPt MSi. Dalam kerjanya dibantu oleh Gugus Perwakilan Pemilik Ternak (GPPT) sebanyak 9 orang dari perwakilan kelompok tani ternak di wilayah tersebut.

Idza yakin, dengan adanya SPR mampu mensejahterakan petani ternak di Kabupaten Brebes dan mampu mensuplay kebutuhan daging secara nasional.

Untuk mencapai keberhasilan SPR tersebut, Idza menggandeng dan menguatkan empat pilar penyangga yang terus disinergikan. Yakni, pertama, merangkul perguruan tinggi sebagai pendamping program, dalam hal ini UNDIP Semarang. Kedua, Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, ketiga, Manajer SPR dan keempat GPPT. “Keempat pilar ini, harus terus saling menguatkan sinergi sehingga mencapai keberhasilan sesuai dengan tujuan didirikannya SPR,” tandas Idza.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Brebes Ir Yulia Hendrawati MSi menaambahkan, selain suntikan dana dari Pusat, dalam hal kegiatan SPR institusinya melakukan Pembinaan Kelembagaan Kelompok dan Pengobatan Ternak. Juga peningkatan SDM bagi peternakan itu sendiri. “Dinas peternakan, tidak tinggal diam meskipun sudah ada manajernya,” imbuhnya. (wasdiun)

Presiden Kenalkan Sistem Pemasaran On Line Petani

Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo

INFODESA.ID-BREBES–Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan kerja ke Desa Larangan, Kecamatan Larangan, Brebes, Jateng kemarin hari Senin (11/4/2016).  Jokowi meluncurkan Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan Program Inklusi atau pendalaman pasar keuangan, dan pemasaran on line hasil produksi pertanian.

Sinergi ini bertujuan memudahkan pelaku usaha dalam mengakses layanan keuangan di pedesaan. Program ini merupakan sinergi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Kementerian Koperasi dan UKM serta perbankan.

Program ini memberikan kemudahan kepada pelaku usaha di daerah. Karena tidak perlu lagi mencairkan kredit dengan mendatangi bank di kota, Tetapi cukup mencairkan melalui penyalur yang disebut sebagai agen laku pandai sebagai perpanjangan tangan perbankan di daerah-daerah.

Sinergi dalam bidang produksi meliputi sarana dan prasarana, bibit, pupuk, serta penyuluh yang akan melibatkan sinergi dua kementerian yaitu Kementan dan Kementerian PUPR.

Bidang pemasaran, Jokowi mulai mengenalkan sistem pemasaran produk hasil pertanian secara online (e-commerce) melalui pengembangan sarana dan prasarana IT sebagai upaya untuk memangkas rantai distribusi produksi petani kepada konsumen.

Tujuannya untuk menjaga ketersediaan komoditas pangan dan stabilitas harga sampai pada tingkat konsumen. Contoh aplikasi e-commerse, adalah aplikasi info pasar, market place sepertilimkilo.id, kumis.com, dan sebagainya.

Sinergi pemasaran ini melibatkan tiga kementerian yaitu Kementerian Kominfo, Kemendag, dan Kementerian Koperasi dan UKM. Pada siklus distribusi petani memerlukan gudang sebagai tempat penampungan produk, pasar, dan kurir. Lebih dari itu semua, transportasi desa menjadi jantung yang akan menggerakan perekonomian masyarakat desa.  (rill-prass)

Presiden Luncurkan Sertifikasi Hak Atas Tanah di Brebes

Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo

INFODESA.ID-BREBES-Kunjungan kerja Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) di Desa Larangan, Kecamatan Larangan, Brebes, Jawa Tengah, kemarin hari Senin (11/4/2016) antara lain meluncurkan program Sertifikasi Hak Atas Tanah (SHAT).

Hal paling mendasar dalam memberikan kesempatan bekerja/berusaha yang layak bagi petani, peternak, dan nelayan adalah memiliki aset berupa tanah. Karena itu sertifikasi hak atas tanah (SHAT) menjadi siklus pertama.

SHAT dimaksudkan untuk pertama, memberikan kekuatan hukum atas kepemilikan hak atas tanah. Kedua, memfasilitasi penyediaan aset yang dapat digunakan sebagai jaminan untuk memperoleh modal usaha.

Ketiga, meningkatkan kepastian keberlangsungan usaha penerimaan manfaat.

Sementara tujuan SHAT adalah, pertama, memberikan kepastian/status hukum atas kekayaan (aset) milik masyarakat para peserta program. Kedua, memberikan jaminan para peserta program untuk meningkatkan kualitas lingkungan sosial dan ekonomi yang layak, permanen, dan sehat.

Ketiga, meningkatkan kepastian usaha peserta program melalui  kepemilikan aset berupa tanah yang dapat digunakan sebagai agunan untuk mengakses sumber-sumber permodalan.

Turut mendampingi Presiden dan Ibu Iriana dalam kunjungan ke Brebes, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Presiden dan rombongan menggunakan Helikopter Super Puma TNI AU dari Pangkalan TNI AU Atang Sandjaja, Kabupaten Bogor. Sore harinya, langsung kembali ke istana negara. (rill-prass)

Petani Panen Padi Dengan Alsintan

petani dan TNI sedang memanen padi menggunakan alsintan (alat mesin pertanian)
petani dan TNI sedang memanen padi menggunakan alsintan (alat mesin pertanian)

INFODESA.ID-WONOGIRI-Selama sepekan ini, petani di wilayah Desa Balaipanjang Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah sedang berbahagia. Benih padi yang ditanam tiga bulan lalu, kini mulai dipanen. Menariknya, ketika memanen padi, sejumlah anggota Babinsa TNI Koramil 05 Baturetno turun membantu petani menggunakan alsintan.

Komandan Rayon Militer (Koramil) Batutreno, Kapten Inf Handriya turun langsung bersama anggotanya. Selain anggota TNI, turut hadir petugas penyuluh lapangan (PPL) Baturetno Pitoyo, membantu petani. Hadir juga anggota Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Kabupaten Wonogiri sebanyak 6 orang.

Petani dan TNI tampak semangat memanen padi, panen pertama di musim tanam pertama tahun ini. Mereka seperti tidak mengenal lelah. Berjibaku dengan lumpur dan tak pedulikan gatal-gatal di badan. “Kami, TNI dan PPL turun ke sawah bersama sama membantu Kelompok Tani Ngudi Hasil,” kata Edi Sri Widodo.

 Triyanto, Ketua Gapoktan Ngudi Hasil merasa senang dengan kehadiran Babinsa dan PPL. Kerena mereka terjun langsung membantu petani dan memberikan penyuluhan dan bimbingan bertani. “Pendampingan dari Babinsa hasil panen kali ini cukup bagus. Semoga dapat meningkatkan kesejahtearan petani,” kata Triyanto.

Triyanto berharap, warga Kelompok Petani Ngudi Hasil bisa menyukseskan program pemerintah yaitu menciptakan swasemabada pangan nasional. Paling tidak petani di Desa Balaipanjang tidak sampai kekurangan pangan. “Hasil panen musim tanam pertama ini sebanyak 7.300 Kg/Ha gabah kering,” pungkas Triyanto.

Pada musim panen kali ini, petani Desa Balaipanjang menggunakan menggunakan alsintan (alat mesin pertanian). Alsintan tersebut merupakan bantuan dari pemerintah Kabupaten Wonogiri. Sehingga dapat mempercepat proses pemanenannya, dibandingkan secara manual. (Pram-B-5).